Kamis, 24 Februari 2011

Perahu Bidar (Sumatera Selatan)


Asal Usul

    Palembang adalah ibukota provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Di daerah ini ada sebuah perlombaan perahu khusus yang disebut dengan bidar. Ada beberapa versi mengenai asal usul perahu lomba yang dinamakan bidar ini. Versi pertama mengatakan bahwa kata bidar pada zaman dahulu berarti perahu. Jadi “bidar julung” berarti “perahu julung”, “bidar pancalang” berarti “perahu pancalang”, dan lain sebagainya. Kemudian, karena sering digunakan dalam ajang perlombaan perahu di sungai-sungai, khusunya di Sungai Musi, maka sebutan bidar akhirnya hanya diperuntukkan bagi jenis perahu yang khusus untuk perlombaan.


Versi kedua mengatakan bahwa perahu bidar berasal dari sebuah legenda pada zaman Kerajaan Sriwijaya. Waktu itu terjadi persaingan antarputeri raja dalam menentukan pasangan hidup mereka. Agar persaingan tidak berlarut-larut, maka raja memutuskan untuk mengadakan perlombaan perahu yang disebut bidar. Dan, bagi para pemuda yang berhasil menjadi juara dapat mengawini puteri-puteri raja.



Versi ketiga mengatakan bahwa lomba perahu bidar berasal dari legenda Puteri Dayang Merindu. Konon, waktu itu di Kabupaten Muara Enim ada sejumlah pangeran yang bermaksud hendak mempersunting seorang puteri yang bernama Dayang Merindu. Namun setelah mengadakan pertandingan bela diri tidak juga ada yang kalah karena sama-sama kuat, akhirnya salah seorang diantara mereka mengusulkan untuk mengadakan perlombaan perahu. Dan, bagi pemenangnya dapat mengawini sang puteri.



Versi yang lainnya lagi mengatakan bahwa perahu bidar berasal dari perahu patroli yang disebut pancalang1 . Pada masa Kesultanan Palembang perahu pancalang digunakan oleh sultan untuk berpesiar atau sebagai angkutan kurir dalam menyampaikan perintah sultan ke daerah-daerah kekuasaannya. Namun, dalam Ensiklopedia Indonesia terbitan W. Van Hoeve Bandung Graven Hage perahu pancalang ini digunakan sebagai perahu untuk mengangkut penumpang dan menjajakan dagangan di sungai. Bentuk perahu pancalang tidak beruas, beratap kajang dan didayung menggunakan galah bambu.



Struktur Perahu Bidar

      Di daerah Sumatera Selatan terdapat berbagai macam jenis perahu bidar, namun yang paling terkenal hanya ada tiga, yaitu: (1) bidar kecik atau bidar mini, adalah jenis perahu bidar yang paling kecil yang hanya beranggotakan 11 orang. Bidar jenis ini umumnya dipergunakan oleh para pelajar dalam perlombaan atau untuk latihan mendayung perahu; (2) bidar pecalangan, yaitu bidar jenis menengah yang beranggotakan 35 orang. Bidar jenis ini biasa diperlombakan di Kota Palembang (Sungai Musi) dan juga di daerah-daerah lain seperti Kabupaten Ogan dan Kabupaten Muara Enim di Sungai Lematang; dan (3) perahu bidar, yaitu perahu yang dipergunakan setiap tahun sekali untuk merayakan hari besar kemerdekaan Indonesia di Sungai Musi. Perahu jenis ini berukuran besar yang panjangnya dapat mencapai 26 meter dan diawaki oleh 57 atau 58 orang. Dalam tulisan ini akan diuraikan bidar jenis ketiga yaitu perahu bidar yang dibuat oleh para perajin perahu di Desa Sungai Lebong, Kecamatan Ogan dan Komering Ilir, Sumatera Selatan, yang biasa dipergunakan untuk perlombaan bidar di Sungai Musi, Palembang.



Sebuah perahu bidar yang didesain sebagai perahu lomba rata-rata memiliki panjang sekitar 26 meter (dari haluan ke buritan), lebar 1,37 m (bagian yang terlebar), dan tinggi sekitar 0,70 meter (bagian yang paling dalam). Pada bagian jalur atau lunas perahu yang berukuran panjang sekitar 20 meter dan lebar 0,09 meter terbuat dari kayu utuh jenis kempas, bungus atau rengas. Ketiga jenis kayu yang banyak terdapat di pedalaman Kabupaten Ogan dan Komering Ilir tersebut dianggap sebagai kayu yang kuat dan tahan terhadap air.



Pada bagian tulang atau kerangka perahu yang berbentuk balok-balok melengkung dengan ukuran sekitar 7x15 meter terbuat dari kayu bungus atau rengas. Bagian kerangka ini gunanya untuk memperkuat perahu dan sekaligus sebagai penghubung antara lunas dengan pinggiran atau dinding perahu yang terbuat dari kayu merawan dengan ukuran panjang sekitar 26 meter, lebar 0,12 meter dan tebal 0,03 meter.



Di sepanjang pinggiran bagian dalam perahu (kiri dan kanan), terdapat balok-balok kayu yang disebut buayan. Buayan pada sebuah bidar umumnya terbuat dari kayu jenis slumer dan gunanya ialah sebagai tempat dudukan palangan perahu dengan ukuran panjang sekitar 26 meter, lebar 0,5 meter dan tinggi 0,10 meter. Palangan pada perahu bidar yang gunanya adalah sebagai tempat duduk para pedayung berbentuk papan selebar 15 centimeter yang dipasang melintang tepat diatas buayan.



Pada bagian haluan dan buritan perahu terdapat dudu’an, yaitu lantai papan yang terbuat dari kayu merawan dengan ukuran sekitar 70x30 centimeter. Dudu’an pada bagian haluan digunakan sebagai tempat duduk juru batu (komandan atau pemberi aba-aba), sedangkan dudu’an bagian buritan digunakan sebagai tempat duduk penyibur (orang yang memberi semangat kepada para pedayung dengan jalan menyiburkan air ke kiri dan ke kanan dengan menggunakan dayungnya).



Sebagai catatan, pada bagian haluan perahu bidar biasanya berukir motif kepala naga atau buaya dan diberi warna semarak agar menarik. Tiap bidar juga diberi nama seperti: Aki Gede Ing Suro, Sigentar Alam, Keramasan dan lain sebagainya. Tujuan dari pengukiran, pewarnaan dan pemberian nama pada setiap bidar tersebut adalah agar dapat “tampil beda” dari yang lain.



Selain itu, perahu bidar juga dilengkapi dengan peralatan khusus, seperti: timba yang berbentuk setengah silinder dengan panjang sekitar 32 centimeter dan garis tengah 30 centimeter yang digunakan untuk mengeluarkan air yang masuk ke dalam bidar; beberapa buah dayung yang terbuat dari kayu merawan; dan sebuah gong sebagai pengatur irama agar gerakan para pedayung menjadi serentak.


Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1992. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara IV. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar